Anakunhas

Kuliah, Berkarya, Mandiri, dan Sukses!

pencegahan dan pengobatan penyakit pada ikan lele

Posted on | August 8, 2011 | 13 Comments

penyakit kembung pada ikan lele

Dalam menjalankan usaha apa pun, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Demikian juga dengan usahabudi daya lele. Salah saw usaha yang bisa kita tempuh untuk menghadapai masalah nonteknis berupa penyakit adalah mencegah agar penyakit tersebut tidak menular lebih parah lagi.

Jika tele telah terinfeksi penyakit, sukar sekali untuk bisa mengembalikan kondisinya seperti sediakala. Jika dipaksakan untuk dipelihara atau dibesarkan, diperlukan waktu lebih lama untuk mencapai ukuran tertentu. Bahkan, dua sampai tiga kali lebih lama daripada lele yang sehat.

Penyakit menyebabkan lele kehilangan selera makan, sehingga sulit untuk besar. Selain itu, ikan yang telah terinfeksi penyakit membutuhkan masa pemulihan yang cukup lama untuk sembuh. Bahkan mungkin sebelum dipanen, sebagian atau seluruh lele akan mati secara bertahap dan akhirnya mati secara total

Seandainya masih ada yang tersisa atau selamat, kernungkinan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Bahkan jika diteruskan, pembudidaya akan mengalami kerugian yang lebih besar, baik menyangkut waktu, uang, dan tenaga.

Agar hasil panen lele maksimal, pencegahan merupakan keharusan dan kata kunci yang perlu dipahami dengan balk oleh pembudidaya. Ada tiga usaha pencegahan dalam budi daya lele, yaitu pencegahan dari bibit penyakit, menjaga agar kualitas air tetap baik, dan pencegahan agar penyakit tidak menular.

a. Pencegahan Terhadap Bibit Penyakit

Kegiatan ini merupakan suatu usaha sanitasi yang di laksanakan pada tahap awal proses budi daya atau pada setiap akhir panen lele, Tujuannya, agar lele tidak terinfeksi bibit penyakit yang disebabkan oleh jasad renik, seperti jamur, bakteri yang menempel atau tinggal di dinding kolam.

Penanganan sederhana seperti ini jauh lebih mudah, efisien, dan efektif daripada harus mengobati ikan yang sudah terserang penyakit. Berikut ini langkah-langkah pencegahan agar tele terhindar dari bibit penyakit.

  • Sterilkan kolam pada tahap awal budi daya menggunakan sabun cud cair, lalu rendam dengan kaporit. Bilas dengan air hingga bersih.
  • Rendam langsung bibit yang baru ditebar ke dalam kolam pembesaran yang telah diberi garam. Misalnya, untuk kolam berukuran 2 x 3 x 0,6 in dengan ketinggian air 10­15 cm, cukup diberi 2-3 genggam garam dapur.
  • Jaga agar air kolam tetap bersih dengan mengganti air secara rutin.
  • Hindari pemberian pakan yang berlebihan.
  • Hindari membeli bibit yang sudah terserang penyakit. Hindari penggunaan afar bantu budi daya yang tercemar penyakit. Sebaiknya, rendam peralatan tersebut dalam larutan kaporit selama semalam sebelum digunakan. Cuci dan bias peralatan hingga bersih, sebelum digunakan kembali.
  • Kuras dan cuci kolam pada setiap akhir panen menggunakan sabun cuci cair, lalu rendam dengan larutan kaporit selama semalam. Bilas dengan air hingga bersih sebelum digunankan kembali.

b. Menjaga Kualitas Air

Kualitas air yang buruk (kadar asam tinggi dan kotor) merupakan sumber berbagai jenis penyakit. Agar kualitas air baik dan sesuai dengan syarat hidup lele, hindari pemberian pakan yang berlebihan dan ganti air secara berkala sesuai dengan usia lele. dalam menjaga kualitas air, pembudidaya juga harus memahami cara penggantian air berdasarkan usia benih.

Lele yang masih kecil atau berupa benih memerlukan penggantian air yang lebih sering jika dibandingkan dengan lele yang sudah cukup besar. LJntuk lele berumur di bawah satu bulan, airnya harus diganti setiap hari. Sebaliknya, untuk lele yang berusia di atas satu bulan atau bibit yang siap dibesarkan, penggantian airnya disesuaikan dengan tingkat kepadatan lele dalam kolam.

Semakin padat penebaran lele, air harus diganti sesering mungkin. Volume air harus ditambah secara bertahap agar lele mempunyai cukup ruang untuk bergerak. Indikator penggantian air juga bisa dilihat dad tingkat kekeruhan air kolam. Jika air kolam sudah keruh dan banyak lele yang cenderung berada di permukaan, tandanya air harus segera diganti.

Untuk menjaga agar kolam steril dari bibit penyakit, setiap akhir panen kuras kolam secara total. Cuci dan sikat menggunakan sabun cair, karena sabun ini memiliki daya bersih yang lebih tinggi dibandingkan sabun lainnya. Setelah selesai, bilas kolam dengan air bersih, hingga bau sabun hilang.

Sementara itu, untuk meningkatkan sanitasi kolam dan membunuh berbagai bibit penyakit, rendam kolam menggunakan kaporit. Untuk kolam berukuran 2 x 3 m dengan ketingian air 10-15 cm, cukup menggunakan 2-3 genggam kaporit. Selain harganya yang murah, kaporit bisa digunakan beberapa kali.

Lama perendaman kolam dengan kaporit cukup satu malam. Perendaman boleh lebih dari semalam, tetapi hal ini tidak terlalu berpengaruh karena kaporit merupakan suatu zat antibakteri dan jamur yang sangat efektif dan bekerja sangat cepat.

Setelah direndam satu malam atau lebih, kuras air kaporit dalam kolam sampai habis, lalu bilas menggunakan air bersih hingga bau kaporit hilang. Kolam bisa digunakan kembali untuk kegiatan budi daya dan dijamin penyakit pun hilang. Menjaga kualitas air adalah cara yang paling efektif untuk mencegah munculnya berbagai bibit penyakit.

c. Pencegahan Agar Bibit Penyakit Tidak Menular

Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Namun, bila penyakit terlanjur menyerang lele, perlu upaya untuk mencegah agar penyakit tidak menular lebih luas lagi.

Pengobatan hanya bisa dilakukan pada lele yang diketahui secara dini terserang penyakit. Sebaliknya, jika sudah terserang penyakit pada tingkat yang parah, sebaiknya lele

tersebut dibuang dan dimusnahkan. Walaupun diobati, lele tidak akan sembuh dan pasti akan mati.

Sebenarnya istilah pengobatan yang digunakan di alas kurang tepat. Istilah yang benar adalah mencegah penyakit agar tidak menyebar. Mengapa? Karena sebagian lele yang sudah tertuiar penyakit akan tetap mati atau tidak bisa diobati. Penanganan tersebut hanya bisa mengurangi tingkat kematian lele.

Kini, memang ada obat-obatan yang dapat mengurangi penyebaran penyakit, tetapi tidak bisa menjamin lele yang telah tercemar penyakit tersebut bisa sembuh total. Sebagian mungkin masih bisa diselamatkan, dengan risiko tingkat kegagalannya pun sangat tinggi.

Andaipun bisa hidup, perkembangannya tidak akan maksimal lagi. Bahkan, bila lele yang sudah terkena penyakit tersebut diobati dan terus dilanjutkan untuk dibesarkan, hanya akan membuang tenaga, uang, waktu, dan pikiran. Lele sudah tidak bisa tumbuh normal—cenderung kuntet atau kerdil—meskipun pakan yang diberikan cukup dan airnya bersih. Mengapa?

Jika sudah terinfeksi, berarti seluruh organ tubuh lele telah diserang penyakit, dari kulit, badan, kumis, mulut, insang, hingga pencernaan. Bila penyakit sudah sampai di pencernaan, selera makan ikan akan turun cirastis. Lele yang tidak mau makan akan mati, sedangkan bagi fele yang selera makannya turun akan memengaruhi pertumbuhannya.

Selera makan yang menurun menyebabkan pertumhuhan lele terhambat. Selanjutnya, waktu panen akan Iebih lama, biaya pakan lebih tinggi, tenaga yang dikeluarkan juga Iebih banyak. Artinya, usaha pembesaran yang dijalankan hanya sia-sia belaka

Karena kita berbicara mengenai usaha budi daya lele modal minimal hasii maksimal,untuk antisipasi apa pun kita harus memperhitungkan segi biaya atau pengeluaran. Begitu juga dalam rangka mengatasi penyebaran penyakit yang telah terlanjur menyerang fele. Metode pencegahan yang disarankan adalah menggunakan metode pengobatan sederhana dan murah yang selama ini telah diaplikasikan petani tradisional.

Selain mudah dan murah, cara ini tidak kalah efektifnya jika dibandingkan dengan menggunakan antibiotik kimiawi, seperti larutan meachytin green (MG), teracytin, atau kernicytin. Metoda yang dianjurkan tersebut seperti diuraikan di bawah ini.

A. Pengobatan Sederhana dan Murah Penyakit (Bintik Putih, Karat, dan Kumis Keriting)

  • Pindahkan ikan yang masih sehat ke kolam penannpungan sementara.
  • Kuras kolam dan buang seluruh bibit yang sakit atau mati.
  • Untuk membunuh bibit penyakit yang mungkin masih menempel di kolam, rendam kolam setinggi air yang dibuang. Larutkan 25 mg kaporit ke dalam 1 liter air, lalu tambahkan ke dalam kolam. Biarkan selama semalam.
  • Kuras kembali kolam dan bilas dengan air bersih.
  • Isi kembali kolam dengan air besih hingga ketinggian 10-15 Cm.
  • Pindahkan kembali bibit dari kolam penampungan sementara ke kolam pembesaran.
  • Rendam bibit lele dengan farutan garam dapur. Untuk kolam berukuran 2 x 3 rn, cukup diberi 2-3 genggam garam dapur.
  • Tambahkan tumbukan daun pepaya secukupnya ke dalam kolam ikan yang terkena penyakit.
  • Lakukan pengobatan selama 3 hari dan ganti air setiap hari.

B. Pengobatan Penyakit Busung

  • Pindahkan lele yang masih sehat ke kolam penampunngan sementara.
  • Kuras kolam dan buang seluruh bibit yang sakit atau coati.
  • Agar kotoran atau bibit penyakit yang disebabkan lele yang mati bisa hilang, sikat dan bersihkan kolam menggunakan detergen. Bilas hingga bersih.
  • Isi kembali kolam dengan air besih setinggi 10-15 cm.
  • Pindahkan kembali bibit lele yang masih sehat ke kolam pembesaran.
  • Taburkan garam dapur ke dalam kolam untuk rnembunuh bibit penyakit yang mungkin akan munc.ul akibat lele mati terserang penyakit kembung.

referensi  : budidaya lele di lahan sempit (Surya Gunawan)

-Info Terkait dengan artikel ini-

Topik yang berhubungan:

penyakit ikan lele - penyakit lele - obat lele - obat ikan lele - penyakit pada ikan lele - penyakit ikan lele dan pengobatannya - penyakit pada lele - pengobatan ikan lele - lele kembung - obat lele kembung - 

Comments

Leave a Reply





*

  • Oblong Anakunhas

  • Bantu Anakunhas

    Ini adalah para sahabat anakunhas yang sudah membantu kami. Mau gabung dengan mereka?, ayo bantu Kami mengembangkan situs ini dengan meng LIKE fan page kami melalui Page Like Anakunhas :
  • follow us

  • discalimer-na

    kami persilahkan bagi siapa saja yang akan melakukan copy paste terhadap materi yang ada didalam blog ini, tidak ada copyright di blog ini, blog ini adalah copyleft hehe, maklum sebagian dari content blog ini adalah hasil copy paste juga.

    Silahkan kalau mau copy-paste tulisan-tulisan disini. Silahkan kalau mau nge-link blog ini. tapi sebaiknya jangan mengakui tulisan orang, malu ki nanti kalau ketahuan toh . Supaya tidak dituduh plagiat, jangan lupa selalu sebutkan atau sematkan url sumbernya.

    beberapa materi yang ada dididalam blog ini kami ambil dari beberapa buku yang terkait, tapi dalam hal ini terjadi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, kenapa? dengan terbitnya kontent buku tersebut, secara tidak langsung kami mempromosikan buku tersebut kepada seluruh pengunjung blog ini yang pas membuka topik buku tersebut yang kami naikkan di blog ini, karena setiap topik yang kami naikkan pasti kami sebutkan sumber buku dan pengarangnya

    ada juga materi yang kami ambil dari majalah tua, tujuannya paling tidak tips-tips yang menarik didalamnya tidak terbuang begitu saja dan bisa menjadi klipping online yang bisa dibaca oleh siapa saja

    karakter UNding & HASan yang banyak digunakan didalam cerita lucu ini hanyalah karakter fiktif belaka, Kata UNding & HASan adalah karakter yang sengaja saya buat dari singkatan UNHAS, jika ada kesamaan cerita lucu diatas mungkin sebuah kebetulan saja sebab semua cerita lucu yang di posting di blog ini hanyalah fiktif belaka.

    okay.. selamat menjelajah…

  • stats