Anakunhas

Kuliah, Berkarya, Mandiri, dan Sukses!

Gaya Bahasa Retoris

Posted on | July 11, 2011 | No Comments

Macam-macam gaya bahasa retoris seperti yang dimaksud di atas

adalah:

a. Aliterasi

Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang bcrwujucl perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang­kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan.

Misalnya:

Takut titik lalu tumpalt.

Keras-keras kerak kena air lembut juga.

b. Asonansi

Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoIeh cfek penckanan atau sckadar keindahan. Misalnya:

Ini maka penult luka siapa punva.

Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

c. Anastrof

Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh

dengan pembalikan susunan kata yang hiasa dalam kalimat. Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami meihat perangainya. Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam hunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bunga dan panji berkibar.

d. Apofasis atau Preterisio

Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenarnya memamerkannya.

Misalnya:

Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya

saya ingin mengatakan bahwa Anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri.

Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

e. Apostrof

Adalah semacam gaya yang berbentuk pcngalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan olch orator kiasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu massa, sang orator secara tiba-tiba mengarahkan pernbicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau obyek khayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berhicara kepada para hadirin.

Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.

Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk lanah air tercinta

ini berilah agar kami dapat mengergam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.

f. Asindeton

Adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar: Veni, vidi, vici, “saya datang, saya lihat, saya menang”.

Perhatikan pula contoh berikut:

Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dari cogito ergo sum dicoba, medium bahasa dieksploitir, imaji-imaji, metode, prosedur dijungkir balik masih itu-itu juga

Dan kesesakan, kepedihan, kesaktian, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

g. Polisindeton

Polisindelon adalah suatu gaya yang merupakan kcbalikan dari asindcton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.

Dan ke manakah burung-burung yang gelisah clan tak berumali dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

h. Kiasmus

Kiasmus (chiasmus) adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya bcrimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dihandingkan dengan frasa atau klausa

lainnya.

Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.

i. Elipsis

Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau di tafsirkan sencliri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya mcmenuhi pola yang berlaku.

Masihkah kau tidak percara bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis…

Bila bagian yang dihilangkan itu berada di tengah-tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya:

jika anda gagal melaksanakan tugasmu … tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu.

Bila pemutusan di tengah-tengah kalimat itu dimaksudkan menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena emosi yang kuat. maka disebut aposiopesis

j. eufemismus

Kata eufemisme atau eufemismus diturunn kan dari kata Yunani eophemizein yang berarti “mempergunakan kata-kata dengan asrit yang baik”. Sebagai gaya bahasa, eufemisme adalah sembacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak meniyunggung perasaaan orang , atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan yang tidak menyenangkan

Ayahnya sudah tidak ada di tengah-tengah mereka (=mati)
Pikiran Sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (=gila)
Anak saudara memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajarn seperti anak-anak lainnya (=bodoh)

h. Litotes

Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakankurang dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya.

Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.

Saya tidak akan merasa bahagia bila mendapat warisan satu milyar rupiah.

Apa yang kami hadiahkan ini sebenarnya tidak ada artinya sama sekali hagimu.

Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.

i. Histeron Proteron

Adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari scsuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya mencmpatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton.

Saudara-saudara, sudah lama terbukti bahwa Anda sekalian tidak lebih baik sedikit pun dari para pesuruh, hal itu tampak dari anggapan yang herkembang akhir-akhir ini.

Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.

Kereta Melaju dengan cepat di depan kuda yang menariknya.

Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasirnya yang putih.

m. Pleonasme dan Tautologi

Pada dasarnya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mcnyatakan satu pikiran atau gagasan. Walaupun secara praktis  kedua istilah itu disamakan saja, namun ada yang ingin membedakan kcduanya. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya tctap utuh. Sebaliknya, acuan itu discbut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. Misalnya:

(1) Saya telah mendengar hal ilu dengan telinga sava sendiri. Saya telah melihat kejadian itu dengan mata kepala sava sendiri. Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.

Ungkapan di atas adalah pleonasme karena scmua acuan itu tctap utuh dengan makna yang sama, walaupun dihilangkan kata-kata: dengan telinga sava. dengan mata kepala .saya, dan yang merah itu.

(2) la tiba jam 20.00 malam waktu setempat . Globe itu bundar bentuknya.

Acuan di alas disebut tautologi karena kata berlebihan itu sebenarnya mengulang kembali gagasan yang sudah disebut schelumnya, yaitu malam sudah tercakup dalam jam 20.00, dan bundar sudah tercakup dalarn globe.

n. Perifrasis

Sebenarnya perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. Perbedaannya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang herkelehihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja.(Perifrasis atau perifrase hendaknya dibedakan dari parafrase. Parafrase adalah suatu pengungkapan kembali sebuah teks, suatu tulisan atau suatu karya, dalarn berth& lain dengan metnpertahankan urutan idenya; biasanya dalam bentuk yang lebih singkat).

Misalnya:

Ia telah beristirahat dengan damai (= mati, atau meninggal).

Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak (= ditolak).

o. Prolepsis atau Antisipasi

Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebrnarnya terjadi. Misalnya dalam mendeskripsikan peristiwa kecelakaan dengan pesawat terbang, sebelum sampai kepada peristiwa kecclakaan itu sendiri, penulis sudah mempergunakan kata pesawat yang sial ilu. Padahal kesialan haru terjadi kemudian. Perhatikan pula kalimat-kalimat hcrikut yang mengandung gaya prulepsis atau antisipasi itu:

Almarhum Pardi pada waktu itu menyatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu.

Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan iempat

Pada pagi yang was itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.

p. Erotesis atau Pertanyaan Retoris

Erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lchih mendalam dan penckanan yang wajar, dan sama sckali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Gaya ini biasanya dipergunakan schagai salah satu alat yang efektif olch para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin.

Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing menghendaki pula imbalanjasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terlalu tiriggi? Apakah saya menjadi wall kakak saya?

Rakyatkah yang harus menanggung akibal semua korupsi dan manipulasi di negara ini?

q. Silepsis dan Zeugma

dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghuhungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mcmpunyai huhungan dengan kata pertama.

Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.

la sudah kehilangan topi dan semangatnya.

Fungsi dan sikap bahasa.

Konstruksi yang lcngkap adalah kehilangan topi dan kehilangan semangat, yang sate memiliki makna denotasional, yang lain memiliki makna kiasan; demikian juga ada konstruksi fungsi Bahasa dan sikap bahctsa namun makna gramatikalnya berbeda, yang satu berarti “fungsi dari hahasa” dan yang lain “sikap terhadap bahasa”.

Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kcdua kata herikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya baik secara logis maupun secara gramatikal). Misalnya:

Dengan membelalakkan mata dan telinganya, is mengusir anjing itu. Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormai kepada kami.

r. Koreksio atau Epanortosis

Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya, Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, .sudah lima kali.

s. Hiperbol

Adalah semacam gaya hahasa yang rnengandung suatu pernyataan

yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku. Jika kau terlambat sedikit raja, pasti kau tidak akan diterima lagi. Prajuril itu masih letup berjuang dan sama sekali lidak tabu bahwa ia sudah mati

t. Paradoks

Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.

Musuh sering merupakan kawan yang akrab.

la mati kelaparan di tengah-tengah kekayaannya yang berlimpah-limpah,

t. Oksimoron

Oksimoron (okys tajam, moms = gila, tolol) adalah sum acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimnron adalah gava hahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lcbih padat dan tajam dari paradoks.

Keramah-tamahan yang bengis.

Uniuk menjadi manis sereorang harus menjadi kasar.

Itu sudah menjadi rahasia umum.

Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak agar. diperlakukan dengan adil. -

sumber : Diksi dan Gaya Bahasa (Gorys Keraf)

-Info Terkait dengan artikel ini-

Topik yang berhubungan:

contoh kalimat retoris - kalimat retoris - gaya bahasa retoris - contoh aliterasi - contoh kalimat aliterasi - pengertian kalimat retoris - contoh gaya bahasa retoris - RETORIS - contoh retoris - kalimat aliterasi - 

Comments

Leave a Reply





*

  • Oblong Anakunhas

  • Bantu Anakunhas

    Ini adalah para sahabat anakunhas yang sudah membantu kami. Mau gabung dengan mereka?, ayo bantu Kami mengembangkan situs ini dengan meng LIKE fan page kami melalui Page Like Anakunhas :
  • follow us

  • discalimer-na

    kami persilahkan bagi siapa saja yang akan melakukan copy paste terhadap materi yang ada didalam blog ini, tidak ada copyright di blog ini, blog ini adalah copyleft hehe, maklum sebagian dari content blog ini adalah hasil copy paste juga.

    Silahkan kalau mau copy-paste tulisan-tulisan disini. Silahkan kalau mau nge-link blog ini. tapi sebaiknya jangan mengakui tulisan orang, malu ki nanti kalau ketahuan toh . Supaya tidak dituduh plagiat, jangan lupa selalu sebutkan atau sematkan url sumbernya.

    beberapa materi yang ada dididalam blog ini kami ambil dari beberapa buku yang terkait, tapi dalam hal ini terjadi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, kenapa? dengan terbitnya kontent buku tersebut, secara tidak langsung kami mempromosikan buku tersebut kepada seluruh pengunjung blog ini yang pas membuka topik buku tersebut yang kami naikkan di blog ini, karena setiap topik yang kami naikkan pasti kami sebutkan sumber buku dan pengarangnya

    ada juga materi yang kami ambil dari majalah tua, tujuannya paling tidak tips-tips yang menarik didalamnya tidak terbuang begitu saja dan bisa menjadi klipping online yang bisa dibaca oleh siapa saja

    karakter UNding & HASan yang banyak digunakan didalam cerita lucu ini hanyalah karakter fiktif belaka, Kata UNding & HASan adalah karakter yang sengaja saya buat dari singkatan UNHAS, jika ada kesamaan cerita lucu diatas mungkin sebuah kebetulan saja sebab semua cerita lucu yang di posting di blog ini hanyalah fiktif belaka.

    okay.. selamat menjelajah…

  • stats