Anakunhas

Kuliah, Berkarya, Mandiri, dan Sukses!

sistematika dan ciri morfologi kepiting bakau

Posted on | June 21, 2011 | No Comments

Kepiting Bakau (Scylla tranquebarica) merupakan salah satu hewan air yang banyak dijumpai di negara Indonesia, dimana habitatnya berada di daerah perairan pantai. Dalam bahasa Inggris Kepiting bakau ini biasa disebut mangrove crab (kepiting bakau) atau mud crab (kepiting Lumpur)_ Berikut ini adalah klasifikasi kepiting bakau (Scylla tranquebarica) menurut Keenan (1998) :

Filum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Sub Kelas : Malacostraca

Seri : Eumalacostraca

Super ordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Seksi : Brachyura

Famili : Portunidae

Genus : Scylla

Spesies : Scylla tranquebarica (Fabricius, 1798)

Menurut Keenan (1998), kepiting bakau memiliki 4 spesies yaitu : Scylla serrata, S. Olivacea, S. paramamosain dan S. Tranquebarica (lihat gambar).

Untuk membedakan ke 4 spesies kepiting bakau di atas adalah dengan cara membedakan bentuk morfologinya, yakni pada bentuk duri yang terdapat diantara dua tangkai mata serta, bentuk dan jumlah duri pada bagian sisi luar karpusnya. S. serrata memiliki bentuk duri antara mata yang tinggi dan runcing serta terdapat dua buah duri pada sisi luar karpus.

S. olivaceae memiliki bentuk duri diantara mata yang rendah dan membulat serta tidak ada dud pada sisi luar karpus. S tranquebarica memiliki bentuk dud diantara mats yang agak rendah, bulat, namun lebih tinggi dari dud S. Olivaceae, S. paramamosain memiliki bentuk dud diantara mata yang runcing namun tidak ada dud pada sisi luar karpus (Keenan, 1998).

Dilihat dari bentuk morfologinya kepiting bakau (S. tranquebarica) memiliki bentuk karapaks yang bundar agak lonjong serta tebal seperti prisai yang terdiri dari zat kapur (zat tanduk) untuk melindungi bagian dalam tubuhnya. Kepiting ini juga memiliki duri-dud yang terletak di bagian depan tubuhnya, masing-masing 9 buah pada bagian kanan dan kid tubuh, serta 4 buah duri terletak diantara dua buah tangkai matanya. Kaki kepiting bakau terdiri dari lima pasang kaki dimana sepasang kaki pertama memiliki ukuran besar yang berbentuk capit yang digunakan sebagai alat pemegang dan alat pertahanan tubuh, pada kaki jalan terakhir mengalami modifikasi berbentuk dayung yang digunakan untuk berenang dan melayang di dalam air (Afrianto,1992).

Spesies Scylla tranquebarica memiliki warna hijau tua kehitam-hitaman (cendrung mengarah ke wama unguj pada bagian karapasnya dan pada bagian abdomennya berwarna putih kekuningan. Dud diantara mata memiliki tinggi lebih rendah dari Scilla serrata dan menumpul, Pada bagian lengan (siku) capit terdapat dua duri yang jelas. Selain itu, habitat kepiting bakau sebagian besar di hutan-hutan bakau di beberapa perairan muara Indonesia (Kanna, 2002).

scylla serrata

scylla olivacea

scylla tranquebarica

scylla paramamosain

Warna karapaks kepiting d pengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada. Kepiting yang berwarna dasar hijau kehitam-hitaman biasanya ditangkap pada perairan terbuka, sedangkan yang berwarna hijau merah kecoklatan biasanya ditangkap dalam lubang di daerah bakau.

Secara eksternal, kepiting jantan dan kepiting betina dapat dibedakan dari bentuk abdomennya. Bentuk abdomen pada betina bulat sedangkan bentuk abdomen jantan lebih langsing dan meruncing. Perbedaan ini mulai nampak pada ukuran lebar karapaks 20 – 31 mm, sedangkan dibawah ukuran tersebut, struktur dan bentuknya sama sehingga sulit untuk membedakannya (Fujaya 2004., Moosa et Al. 1985).

Habitat dan Penyebaran kepiting bakau

Kepiting bakau S. Tranquebarica banyak dijumpai hidup di tepi pantai yang tanahnya agak berlumpur, dimana daerah ini merupakan daerah pasang surut, selain itu kepiting bakau ini biasanya ditemukan berasosiasi dengan kepiting bakau S.olivacea. Tempat yang paling disenangi oleh kepiting ini adalah pantai dangkal yang memiliki tumbuh-tumbuhan mangrove seperti hutan bakau dan nipah (Afrianto, 1992 dan Keenan, 1998).

Kepiting bakau S. Tranquebarica tersebar luas di bagian barat Indo-Pasifik yakni dari daerah Pakistan ke Malaysia dan Filipina, serta sangat berlimpah mengelilingi bagian selatan Laut Cina Celatan (Keenan, 1998).

Makanan dan Kebiasaan Makan Kepiting Bakau

Berdasarkan sifat dan kebiasaan makan, kepiting bakau tergolong bersifat omnivorus yang cenderung sebagai pemangsa, dimana pada saat larva kepiting sangat menyukai memakan plankton seperti Daphnia, Artemia dan beberapa jenis plankton lain, sedang pada saat kepiting dewasa kepiting lebih suka memakan daging dan bangkai dibanding dengan tanaman, beberapa jenis pakan pada saat kepiting dewasa adalah ikan, daging molluska, udang, algae (tanaman air) dan tidak menuntut kemungkinan kepiting bakau dapat melakukan kanibalisme terhadap sesamanya apabila mengalami kekurangan makanan ( Afrianto, 1992 ; Sulaeman dan Hanafi, 1992).

Pertumbuhan Kepiting Bakau

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran bobot maupun panjang organisme. Secara fisiologis pakan yang dikomsumsi kepiting akan digunakan sebagai sumber energi untuk perawatan tubuh (maintenance), aktivitas fisik dan sebagai komponen penyusun sel-sel tubuh. Dengan tersedianya energi dalam jumlah yang cukup dari pakan yang dikomsumsi kepiting bakau, maka kebutuhan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar dan bahan penyusun membran sel-sel tubuhnya dapat terpenuhi, sehingga kepiting dapat mempertahankan kelangsungan hidup dan terjadi transformasi energi yang lebih banyak untuk proses pembentukan daging dan pertumbuhannya (Karim, 2002).

Salah satu tanda bahwa seekor kepiting bertumbuh dan berkembang dapat dilihat pada aktivitas moulting (pergantian kulit). Proses penggantian kulit pada kepiting dimulai dengan terjadinya penyerapan zat-zat kapur pada kulitnya yang keras. Tubuh dengan kulit baru yang lembek akan keluar dari kulit yang lama, setelah itu kepiting akan makan setelah 6 jam dan tubuhnya akan mengeras setelah kurang dari 24 jam (Sulaeman,1992).

Frekuensi pertumbuhan pada kepiting bakau dapat dilihat dari jumlah ganti kulit (moulting). Frekwensi pergantian kulit pada kepiting bakau dipengaruhi oleh pengaruh internal berupa umur dan jenis kelamin, serta faktor eksternal berupa nutrisi dan kondisi lingkungan terutama kedalaman, suhu dan pH perairan (Soim, 1999 dalam Aslamyah, 2003).

Menurut Arriola (1940 dalam Sulaeman 1993), kepiting bakau hanya dapat mengalami pertambahan ukuran pada saat pergantian kulit. Hasil pengukuran pertambahan lebar karapaks setiap kali terjadi pergantian kulit menunjukkan adanya proses pertumbuhan.

Pertumbuhan antara jenis kelamin jantan dan betina memiliki perbedaan hal tersebut disebabkan karena aktifitas makan kepiting jantan lebih tinggi dibandingkan yang betina, selain itu kepiting betina memerlukan energi yang cukup banyak untuk perkembangan gonadnya. Jadi kedua faktor tersebut diduga dapat menyebabkan pertumbuhan kepiting jantan lebih baik dari pada kepiting betina (Gunarto, 1993).

Tingkat Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau

Tingkat kelangsungan hidup atau sintasan merupakan suatu hal yang akan muncul dalam kegiatan budidaya. Tingkat kelangsungan hidup kepiting budidaya sangat dipengaruhi oleh terjadinya kasus kanibalisme. Hal tersebut dapat terjadi akibat kegiatan persaingan makan, tempat, sifat kanibalisme, dan pengaruh lingkungan yang terjadi tiba-tiba dan sifatnya menjadi ekstrim bagi kepiting (Gunarto, 1993).

Padat penebaran merupakan salah satu faktor diantara beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup. Padat penebaran yang terlalu banyak dapat mengakibatkan ruang yang sempit bagi aktivitas bergerak masing-masing individu. Akibat dari padat penebaran yang terlalu banyak akan menimbulkan sifat kanibalisme atau Wing memangsa diantara kepiting, apalagi dalam kondisi kekurangan pakan dan pada saat ganti kulit, dimana kepiting yang ganti kulit membutuhkan tempat berlindung sebab kondisinya masih Iemah, hal tersebut merupakan saat yang kritis bagi tingkat kelangsungan hidup kepiting (Rusdi,1993).

Jumlah padat penebaran sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan dan sintasan kepiting bakau dalam kualitas air yang optimal. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Gunarto (1993) memperlihatkan basil yang terbaik pemeliharaan kepiting di tambak pada kepadatan 1 ekor/m2 dibandingkan dengan padat kepadatan 3 hingga 5 ekor/m2.

Pemberian naungan merupakan satu faktor pendukung meningkatnya kelangsungan hidup kepiting, salah satu penelitian yang dilakukan oleh Rusdi (1993) menunjukkan bahwa jumlah naungan yang berbeda tidak berpengaruh nyata pada interaksi kepadatan. Walaupun tingkat pemberian naungan tidak menunjukkan perbedaan, namun semakin banyak pemberian naungan cenderung dapat meningkatkan kelangsungan hidup kepiting. Semakin banyak tempat berlindung makin kurang kontak langsung sesama kepiting terutama waktu ganti kulit.

Kepiting yang baru ganti kulit berusaha menghindar dari kepiting lainnya dengan cara bersembunyi pada naungan atau membenamkan diri kedalam pasir atau lumpur. Menurut Gunarto (1989 dalam Rusdi 1993) mengemukakan bahwa pemeliharaan kepiting di tambak dan kelangsungan hidup kepiting sangat dipengaruhi oleh jumlah pemberian pakan dan naungan yang diduga bisa mengurangi sifat kanibalisme.

Kualitas Air

Kepiting bakau merupakan jenis krustacea yang sifatnya euryhaline atau
memiliki toleransi fluktuasi salinitas yang cukup luas dimana menurut Kanna (2002) bahwa kepiting bakau dapat hidup pada fluktuasi salinitas10 — 33 ppt. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Gunarto (1993) bahwa kepiting bakau dapat tumbuh dan berkembang pada salinitas 0 – 32 ppt, dimana pada salinitas 0 – 2 ppt kepiting banyak mengalami kematian diduga akibat proses osmoregulasinya terganggu.

Perubahan salinitas yang baik untuk pertumbuhan kepiting bakau berkisar sekitar 10- 12 ppt walau kepiting mampu mentolerir salinitas dengan fluktuasi salinitas 5 – 36 ppt, hal tersebut disebabkan karena diduga pada lingkungan dengan salinitas yang rendah terjadinya transformasi energi lebih banyak terjadi pada proses pembentukan daging dan hanya sedikit energi yang digunakan untuk proses osmoregulasi dalam hal menjaga tekanan cairan tubuh dengan lingkungan (Gunarto, 1993 dan Dat, 1997).

Suhu air optimal untuk kepiting bakau menurut Baliao (1983) dalam Sulaeman (1993) bahwa kisaran suln, untuk kepiting bakau bertumbuh cepat yaitu berkisar pada suhu 23-32°C. Sedang untuk tingkat pH atau kemasaman menurut Gunarto(1989 dalam Sualeman 1993) adalah berkisar 6,5-8,5. Untuk kadar amoniak (NH1) menurut St.Aslamiah (2003) adalah berkisar 0.1 ppm.
Meskipun kepiting dapat bertahan hidup di darat, namun air merupakan kebutuhan utamanya. Namun tidak semua air dapat digunakan untuk memelihara kepiting, sebab dalam memeliharanya dibutuhkan kualitas dan kuantitas yang cocok. Untuk memelihara kepiting idealnya memiliki lokasi yang dekat dengan air tawar dan taut selain itu, lokasi tersebut banyak dihuni oleh kepiting, karena daerah yang banyak kepiting bakau memiliki sumber dan persyaratan hidup yang baik untuk kepiting yang akan di kultur (Afrianto, 1992).

Dalam pemeliharaannya parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan kepiting adalah : Pasang surut air sekitar 2-3 meter. Suhu air berkisar 25 – 27 °C, dimana pada perubahan fluktuasi suhu 5 secara cepat dapat membuat kepiting menjadi stress. Salinitas berkisar 25 – 29 ppm, dengan toleransi salinitas sekitar, 10 – 35 ppm. Kadar oksigen terlarut (D.0) berkisar 3.5 – 8.0 ppm, pH 8-9 (Trino, 1999 dan Afrianto 1992).

Pemeliharaan dan pembesaran kepiting bakau

Penebaran kepiting secara monokultur dilakukan sekitar 10.000 – 20.000 ekor/ha, dengan berat awal sekitar ± 40 – 80 gr. Pada saat penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi hari dimana suhu air berkisar antara 27 – 28 °C, dengan salinitas awal sekitar 10 – 15 ppm dan akan ditingkatkan secara perlahan sampai 35 ppm. (Afrianto, 1992 dan Kanna, 2002).

Selama pemeliharaan kepiting diberi pakan ikan rucah, daging kerang dan hancuran siput. Jumlah pakan diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan kepiting, hal ini dapat dilihat dari jumlah pakan yang bersisa atau tidak. Sebaiknya pakan yang tidak termakan diangkat karena dapat mengurangi kualitas air (Kanna,2002).

Pemeliharaan/pembesaran kepiting bakau (S. tranquebarica) di tambak dapat di lakukan sekitar 4-6 bulan, tergantung pada ukuran benih yang ditebar pada awal pemeliharaan. Laju pertumbuhan kepiting akan dipengaruhi oleh jumlah pemberian pakan dan kualitas air tambak pembesaran (Kanna, 2002).

sumber :

-Info Terkait dengan artikel ini-

Topik yang berhubungan:

habitat kepiting bakau - morfologi kepiting - morfologi kepiting bakau - habitat kepiting - ciri-ciri kepiting - ciri-ciri kepiting bakau - ciri ciri kepiting bakau - klasifikasi kepiting bakau - kepiting bakau - ciri ciri kepiting - 

Comments

Leave a Reply





*

  • Oblong Anakunhas

  • Bantu Anakunhas

    Ini adalah para sahabat anakunhas yang sudah membantu kami. Mau gabung dengan mereka?, ayo bantu Kami mengembangkan situs ini dengan meng LIKE fan page kami melalui Page Like Anakunhas :
  • follow us

  • discalimer-na

    kami persilahkan bagi siapa saja yang akan melakukan copy paste terhadap materi yang ada didalam blog ini, tidak ada copyright di blog ini, blog ini adalah copyleft hehe, maklum sebagian dari content blog ini adalah hasil copy paste juga.

    Silahkan kalau mau copy-paste tulisan-tulisan disini. Silahkan kalau mau nge-link blog ini. tapi sebaiknya jangan mengakui tulisan orang, malu ki nanti kalau ketahuan toh . Supaya tidak dituduh plagiat, jangan lupa selalu sebutkan atau sematkan url sumbernya.

    beberapa materi yang ada dididalam blog ini kami ambil dari beberapa buku yang terkait, tapi dalam hal ini terjadi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, kenapa? dengan terbitnya kontent buku tersebut, secara tidak langsung kami mempromosikan buku tersebut kepada seluruh pengunjung blog ini yang pas membuka topik buku tersebut yang kami naikkan di blog ini, karena setiap topik yang kami naikkan pasti kami sebutkan sumber buku dan pengarangnya

    ada juga materi yang kami ambil dari majalah tua, tujuannya paling tidak tips-tips yang menarik didalamnya tidak terbuang begitu saja dan bisa menjadi klipping online yang bisa dibaca oleh siapa saja

    karakter UNding & HASan yang banyak digunakan didalam cerita lucu ini hanyalah karakter fiktif belaka, Kata UNding & HASan adalah karakter yang sengaja saya buat dari singkatan UNHAS, jika ada kesamaan cerita lucu diatas mungkin sebuah kebetulan saja sebab semua cerita lucu yang di posting di blog ini hanyalah fiktif belaka.

    okay.. selamat menjelajah…

  • stats